Paruh
yang terlewat panjang dan melengkung, serta keadaan cakar kurang lebih sama,
adalah takdir yang mesti dihadapi oleh seekor elang yang sudah tua. Paruh dan
cakar seperti itu tak akan bisa digunakan untuk menyergap mangsa walau hanya
seekor anak tikus yang belum hapal betul cara berlari. Elang tua lalu melakukan
hal dramatis yang barangkali amat menyakitkan. Ia terbang ke gunung tinggi,
disana –sendirian- ia memukul-mukulkan paruh itu ke batu, berkali-kali, hingga
terlepas. Hal serupa juga dilakukan pada cakarnya yang afkir. Sakit, pasti
sakit melakukan itu. Tanpa paruh dan cakar, ia harus berdiam diri selama kurang
lebih kurang enam bulan, hingga paruh dan cakarnya tumbuh lagi. Sekarang,
setelah itu semua, ia kembali meluncur dan melanjutkan kehidupan, hingga kematian
betul-betul tak lagi bisa dihadang…
Makhluk Rakus Ruang
Punya
mobil pribadi? Kenapa tidak! Saat ini hampir semua orang ingin memilikinya. Hal
itu tidaklah mengherankan, mengingat banyak hal-hal asyik yang dapat dinikmati melalui
mobil pribadi. Tak perlu lagi menimbang-nimbang keadaan cuaca ketika hendak
bepergian, panas ataupun hujan, tak masalah. Belum lagi kapasitas isi yang
lebih banyak, tempat duduk yang lebih nyaman, AC, music, hingga video. Mana ada
kemewawan-kemewahan itu pada sebuah sepeda motor, apalagi pada becak ataupun
pedati.
Label:
catatan-catatan kecil
“Ketika Orang-Orang Tua Bercakap-cakap”
“Hanya tinggal saya
sendiri, yang lain sudah habis” Kata Bapak berambut putih itu ketika kawannya
bertanya perihal kabar beberapa orang sahabat lama.
“Induak bareh bagaimana keadaannya?” Bapak berambut putih balas bertanya.
“Sudah lima tahun” kata sang kawan ringan, lalu kemudian tertawa.
“Inna lillah!” kata bapak berambut putih.
Obrolan kedua pensiunan polisi itu berlanjut akrab disela-sela antrian pengunjung kantor pajak yang bertumpuk. Kenangan masa lalu tampak sangat indah untuk dibicarakan oleh dua orang tua ini.
“Sekarang tinggal kita berdua yang seangkatan” kata bapak berambut putih.
Label:
catatan-catatan kecil
Kisah Idul Adha (3) : Jadi Khatib (dan orang suci)
Menurutku
para khatib adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan
pesan-pesanNya. Maka, jikalau kawan pembaca tak diundang menjadi khatib atau
penceramah, artinya Tuhan belum berkehendak, alasannya cari saja sendiri.
Sebaliknya, jikalau diundang untuk memberikan khutbah atau ceramah, maka
penuhilah dengan sepenuh hati, siapkan diri sebaiknya, siapkan ayat, juga
hadisnya, jangan sampai asal-asalan atau malah menyesatkan. Jangan lupa, terima
saja amplopnya jikalau usai khutbah dan ceramah, tentunya seraya mengucapkan
terima kasih. He he he he.
Label:
catatan-catatan kecil
Kisah Idul Adha (2) :Dua Belas Sapi (setelah dua belas tahun penantian) dan Satu Kambing.
Judul
di atas adalah track record penyembelihanku untuk ternak kaki empat. Aku senang
dengan rekor ini. Ketika aku membanggakan record ini dihadapan istri, ia
menjuluki diriku “tukang jagal”, untuk julukan ini jelas saja aku tak senang
sama sekali.
Jumlah
di atas adalah catatan untuk dua tahun. Ya, tahun kemarenlah pertama kalinya
dalam hidup, aku harus menyembelih ternak berkaki empat. Saat itu sebanyak tiga
ekor sapi dan satu ekor kambing. Sebenarnya ada empat ekor sapi, tapi baru
sampai sapi ke tiga, tanganku tak lagi punya daya (mungkin karena kesempatan
pertama), aku menyerahkannya kepada yang lain. Pasti sapi keempat itu tak
beruntung, karena ia melewatkan kesempatan satu-satunya dimana ia disembelih
oleh seorang yang suka menulis. He he he he.
Label:
catatan-catatan kecil
Kisah Idul Adha (1) Bacaan Arab (yang menakutkan)
Ketika sedang menikmati sarapan pagi, tiba-tiba mertua datang tergopoh-gopoh. Ia mengabarkan bahwa orang yang sedianya menyembelih sapi korban urung datang, entah apa sebabnya. Pendek kata, aku diminta untuk melakukan penyembelihan. Aku menyanggupi tapi sekaligus heran, tidak adakah orang lain di kampung ini yang mampu menyembelih, mengingat urusan sapi bisa dikatakan sudah jadi urusan sehari-hari mereka. Buktinya, baru saja penyembelihan dilakukan, para penduduk bekerja sangat cekatan, seluruh jenis pisau mereka punya, maka tak heran kalau mereka berhasil bekerja dalam waktu yang tak lama.
Label:
catatan-catatan kecil
“Marah Pertama Untuk si Kecil”
Akhirnya saat dramatis itu datang
juga, yaitu ketika aku –sebagai seorang ayah- untuk pertama kalinya harus marah
kepada anakku yang –setidaknya menurutku- berwajah manis. Kanak berumur 2,5
tahun itu sudah saatnya “tahu” yang benar dan yang salah, yang patut dan tak
patut, apalagi esoknya ia akan tumbuh menjadi seorang perempuan. Marah ini
sangat diperlukan setelah nasehat-nasehat sebelumnya tak ia turuti dengan baik.
Dia kan masih belum “tahu” apa-apa? Ya, memang saat ini si kecil
belum sepenuhnya punya kesadaran diri, tapi bukankah dalam ketidak tahuan,
dalam ketidak-sadaran itu, aku bisa menanamkan kebiasaan baik, agar suatu hari,
ketika sampai masanya dia sadar dan “sudah berakal”, ia menemukan dirinya
terbiasa dengan segala hal yang baik dan
patut untuk dilakukakan. Jadi, pada masa depan ia tak kesulitan lagi untuk hal
ini.
Label:
catatan-catatan kecil
Langganan:
Postingan (Atom)
