Tampilan fisik sebuah peristiwa kadangkala begitu dramatis pada mata kita. Seperti halnya Nabi Musa, ia berulangkali terperanjat melihat beberapa ulah nabi Khidir yang terlihat aneh, yaitu merusak perahu orang miskin, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki sebuah rumah walau tak diminta penghuninya. Ternyata itu semua hanyalah sebuah lambang, ada hakikat dan rahasia besar yang membuat seluruh peristiwa yang sempat memantik protes nabi Musa itu menjadi masuk akal dan wajar-wajar saja. Lebih penting dari itu, ada pelajaran hidup yang sangat berharga.
Laku Kesombongan
“ Saya lebih baik darinya!”
Itulah alasan Iblis ketika Tuhan menanyakan kenapa ia tak mau diperintahkan untuk “sujud” kepada Adam. Sangat jelas dan tanpa basa-basi alasan tersebut. Lebih dari itu, selain terlihat seperti ikrar kesombongan, alasan iblis tersebut adalah deklarasi pembangkangan yang amat nyata. Iblis tak pernah peduli terhadap fakta bahwa Adam adalah sosok makhluk yang telah dipersiapkan menjadi khalifah, lengkap dengan segala keistimewaan yang ia miliki. Iblis telah terlanjur nekat mengambil langkah dramatis dalam riwayat hidupnya; menantang Tuhan!
Itulah alasan Iblis ketika Tuhan menanyakan kenapa ia tak mau diperintahkan untuk “sujud” kepada Adam. Sangat jelas dan tanpa basa-basi alasan tersebut. Lebih dari itu, selain terlihat seperti ikrar kesombongan, alasan iblis tersebut adalah deklarasi pembangkangan yang amat nyata. Iblis tak pernah peduli terhadap fakta bahwa Adam adalah sosok makhluk yang telah dipersiapkan menjadi khalifah, lengkap dengan segala keistimewaan yang ia miliki. Iblis telah terlanjur nekat mengambil langkah dramatis dalam riwayat hidupnya; menantang Tuhan!
Label:
catatan-catatan kecil
“DI ATAS TANAH INDONESIA RAPUH DAN RINGKIH”
Waktu kecil dahulu, para guru kerap menceritakan bahwa negera ini adalah negara dengan sumber daya melimpah, ada emas dan perak, gas dan minyak, rimba belantara, hasil bumi dan laut yang tak terhitung jumlahnya. Cerita tentang kelebihan negera ini tak berhenti sampai di sana, guru juga menceritakan bahwa negera ini terletak pada pososi yang strategis, aku masih ingat betul istilahnya “diapit dua benua dan dua samudera”, bukan main strategisnya. Jika negara ini adalah toko, maka ia adalah toko serba ada yang terletak di keramaian.
Oleh karena itu, logika yang paling lemah sekalipun pasti setuju jika negera ini seharusnya adalah negara kaya, dimana penduduknya hidup sejahtera. Tak seharusnya apa yang kita lihat sekarang ini, untuk sekolah susah bukan main. Tak seharusnya terjadi apa yang kita saksikan akhir-akhir ini, sakit berarti bangkrut. Jika dulu orang-orang membeli baju bekas untuk berpakaian atau kendaraan bekas untuk bepergian, maka sekarang ini, orang makan makanan bekas yang terbuang untuk mengisi perut. Buk guru, mana negera kita yang kaya dan berposisi strategis itu?
Dan inilah faktanya ; negara ini bising bukan main. Bising bukan karena ada sekumpulan orang pintar yang tengah berdebat tentang bagaimana seharusnya pesawat canggih dibuat, tetapi bising karena dimana-mana orang berteriak ; ada maling! Sementara malingnya juga ikut berteriak serupa. Seperti itu saban hari. Maka tak heran, jikalau menonton siaran berita, hampir tak ada berita positif, dari pagi hingga larut malam, si presenter yang cantik selalu berbicara tentang maling, maling, dan maling. Hanyasaja kata “maling” itu telah diperhalus sedemikian rupa, mungkin agar tak berat lidah mengucapkannya, atau terlalu segan karena malingnya adalah orang berijazah tinggi yang sangat jauh beda kelas dengan maling jemuran yang tak tamat SD.
Ternyata pangkal masalahnya adalah terkikisnya kejujuran dari diri kita semua. Jika kita berbohong, entah itu iseng atau serius, maka tak ada bedanya kita dengan mereka, orang-orang yang dikatai sebagai maling alias koruptor itu, yaitu sama-sama tak jujur, tetapi dengan kadar yang agak berbeda. Adalah yang paling ditakutkan jika kebohongan-kebohongan kecil lama-lama menjadi kebohongan besar hingga sampai menjadikan negara yang seharusnya kaya ini menjadi tambah bangkrut. Bukankah orang bilang “sedikit demi sedikit lama menjadi bukit?” dan celakanya bukit kebohongan itu tumbuh di atas tanah Indonesia yang telah terlanjur rapuh dan ringkih. Jika bukit kebohongan itu terlanjur ada, maka ambrollah semuanya kebawah ke dasar bumi, pada saat itu terjadi kita semua pasti makan tanah, tak lagi makan nasi.
Maka, ada baiknya kita berharap, bahwa Ramadhan ini kita bisa berhenti melakukan kebohongan-kebohongan, walaupun kecil dan tak ngaruh. Berat memang, tapi bukannya tak bisa. Dunia tiada henti menggoda, manusia lemah tak terkira, tapi setidaknya kita punya kesadaran dan ada banyak masjid yang dapat terus menjaga kita untuk tetap sadar dan terjaga. Tentunya jika kita mau.
Mau?
Oleh karena itu, logika yang paling lemah sekalipun pasti setuju jika negera ini seharusnya adalah negara kaya, dimana penduduknya hidup sejahtera. Tak seharusnya apa yang kita lihat sekarang ini, untuk sekolah susah bukan main. Tak seharusnya terjadi apa yang kita saksikan akhir-akhir ini, sakit berarti bangkrut. Jika dulu orang-orang membeli baju bekas untuk berpakaian atau kendaraan bekas untuk bepergian, maka sekarang ini, orang makan makanan bekas yang terbuang untuk mengisi perut. Buk guru, mana negera kita yang kaya dan berposisi strategis itu?
Dan inilah faktanya ; negara ini bising bukan main. Bising bukan karena ada sekumpulan orang pintar yang tengah berdebat tentang bagaimana seharusnya pesawat canggih dibuat, tetapi bising karena dimana-mana orang berteriak ; ada maling! Sementara malingnya juga ikut berteriak serupa. Seperti itu saban hari. Maka tak heran, jikalau menonton siaran berita, hampir tak ada berita positif, dari pagi hingga larut malam, si presenter yang cantik selalu berbicara tentang maling, maling, dan maling. Hanyasaja kata “maling” itu telah diperhalus sedemikian rupa, mungkin agar tak berat lidah mengucapkannya, atau terlalu segan karena malingnya adalah orang berijazah tinggi yang sangat jauh beda kelas dengan maling jemuran yang tak tamat SD.
Ternyata pangkal masalahnya adalah terkikisnya kejujuran dari diri kita semua. Jika kita berbohong, entah itu iseng atau serius, maka tak ada bedanya kita dengan mereka, orang-orang yang dikatai sebagai maling alias koruptor itu, yaitu sama-sama tak jujur, tetapi dengan kadar yang agak berbeda. Adalah yang paling ditakutkan jika kebohongan-kebohongan kecil lama-lama menjadi kebohongan besar hingga sampai menjadikan negara yang seharusnya kaya ini menjadi tambah bangkrut. Bukankah orang bilang “sedikit demi sedikit lama menjadi bukit?” dan celakanya bukit kebohongan itu tumbuh di atas tanah Indonesia yang telah terlanjur rapuh dan ringkih. Jika bukit kebohongan itu terlanjur ada, maka ambrollah semuanya kebawah ke dasar bumi, pada saat itu terjadi kita semua pasti makan tanah, tak lagi makan nasi.
Maka, ada baiknya kita berharap, bahwa Ramadhan ini kita bisa berhenti melakukan kebohongan-kebohongan, walaupun kecil dan tak ngaruh. Berat memang, tapi bukannya tak bisa. Dunia tiada henti menggoda, manusia lemah tak terkira, tapi setidaknya kita punya kesadaran dan ada banyak masjid yang dapat terus menjaga kita untuk tetap sadar dan terjaga. Tentunya jika kita mau.
Mau?
Label:
catatan-catatan kecil
KIKIS MUNAFIK
Sudah sekitar seminggu berpuasa. Dalam waktu-waktu itu, ada banyak kenangan dan kesan yang dapat diceritakan, tentang bagaimana rasa lemas yang harus dilawan, tentang hikmah yang yang selalu terbuka untuk ditelusuri, tentang banyak hal yang terus menggoda untuk merusak puasa. Pokoknya, seminggu yang lewat juga beberapa minggu setelah ini, adalah masa dimana manusia dituntut untuk lebih arif, lebih kontemplatif, lebih sabar dan lebih bijak. Saat-saat seperti itu akan melahirkan lebih banyak kesan dan cerita.
Label:
catatan-catatan kecil
“… karena durian tak mungkin berbuah nangka”
“Kenapa kaki Ayah tu?”
“Luka dan berdarah”
“Belalah kaki ayah…, cepat sembuh ya Yah…”
Itulah sepenggal dialog antara aku dan putri kecilku yang baru lewat dua tahun pada Sabtu pagi akhir pekan lampau. Seperti biasa, si kecil selalu menunjukkan ketertarikan dan tanda tanya akan suatu hal dan seperti biasa pula, aku selalu berusaha sebaik mungkin meladeni ketertarikannya itu. Aku ingat betul ketika seperti pertama kalinya ia bertanya tentang apa, siapa dan bagaimana, waktu itu aku sangat takjub dan senang. Tapi seiring perjalanan waktu, pertanyaan-pertanyaan si kecil sudah menjadi hal biasa bagiku, dan aku –sama seperti orang tua lainnya- selalu menjawab sabar dengan memberikan jawaban yang logis, dan tak lupa menyederhanakan jawaban itu. Namun pagi ini dialog kami sangat menarik bagiku, tentang si kecil yang tak hanya bercerita dan bertanya, tapi juga memberikan semangat ; “cepat sembuh ya Yah..”
“Luka dan berdarah”
“Belalah kaki ayah…, cepat sembuh ya Yah…”
Itulah sepenggal dialog antara aku dan putri kecilku yang baru lewat dua tahun pada Sabtu pagi akhir pekan lampau. Seperti biasa, si kecil selalu menunjukkan ketertarikan dan tanda tanya akan suatu hal dan seperti biasa pula, aku selalu berusaha sebaik mungkin meladeni ketertarikannya itu. Aku ingat betul ketika seperti pertama kalinya ia bertanya tentang apa, siapa dan bagaimana, waktu itu aku sangat takjub dan senang. Tapi seiring perjalanan waktu, pertanyaan-pertanyaan si kecil sudah menjadi hal biasa bagiku, dan aku –sama seperti orang tua lainnya- selalu menjawab sabar dengan memberikan jawaban yang logis, dan tak lupa menyederhanakan jawaban itu. Namun pagi ini dialog kami sangat menarik bagiku, tentang si kecil yang tak hanya bercerita dan bertanya, tapi juga memberikan semangat ; “cepat sembuh ya Yah..”
Label:
catatan-catatan kecil
“Catatan 26”
Secara formal, hari ini aku tambah umur, dari dua lima jadi dua enam. Ya, sengaja kutulis “secara formal”, karena faktanya umur ini terus bertambah setiap saat, bahkan kita sampai tak bisa menghitung seberapa pasti sebenarnya umur ini sekarang. 26 tahun sekian jam berapa detikkah umur ini sekarang? Sulit menentukannya karena detik terus berdetak, jarum kurus itu tak pernah mau peduli, tak sabar menunggu sebentar saja sampai kita bisa menghitung berapa jumlah tahun, jam dan detik dari umur ini. Intinya, hari ini, tanggal dua-dua Juli aku berulang tahun.
Label:
catatan-catatan kecil
“Kerak Anomali”
Jika harus memilih apa anugerah terbesar Tuhan terhadap kehidupan manusia, maka itu adalah pekerjaan sulit bahkan mungkin mustahil. Semua pemberian Tuhan itu terasa penting, bahkan sehelai rambut-pun sama pentingnya dengan kepala, bukankah banyak orang yang berani membayar lebih mahal atau bahkan sangat mahal untuk urusan rambut daripada untuk kebaikan isi kepala itu sendiri? Namun ada satu anugrah Tuhan tak-kasat-mata-tapi-ada yang harus kita syukuri, yaitu kepastian. Yah, Tuhan telah menciptakan kepastian hingga kita tak harus khwatir bahwa air pegunungan yang tengah kita minum secara tiba-tiba berubah menjadi api ketika lewat kerongkongan. Kita juga tak perlu khawatir jika air bak mandi yang kita basukan ke muka berubah menjadi cairan lava yang berpijar. Bayangkan kalau itu terjadi..., tapi tak usahlah dibayangkan, hanya akan buang-buang waktu, karena itu semua pasti tak akan terjadi. Pasti tak akan terjadi.
Label:
catatan-catatan kecil
Langganan:
Postingan (Atom)
