Akhirnya saat dramatis itu datang
juga, yaitu ketika aku –sebagai seorang ayah- untuk pertama kalinya harus marah
kepada anakku yang –setidaknya menurutku- berwajah manis. Kanak berumur 2,5
tahun itu sudah saatnya “tahu” yang benar dan yang salah, yang patut dan tak
patut, apalagi esoknya ia akan tumbuh menjadi seorang perempuan. Marah ini
sangat diperlukan setelah nasehat-nasehat sebelumnya tak ia turuti dengan baik.
Dia kan masih belum “tahu” apa-apa? Ya, memang saat ini si kecil
belum sepenuhnya punya kesadaran diri, tapi bukankah dalam ketidak tahuan,
dalam ketidak-sadaran itu, aku bisa menanamkan kebiasaan baik, agar suatu hari,
ketika sampai masanya dia sadar dan “sudah berakal”, ia menemukan dirinya
terbiasa dengan segala hal yang baik dan
patut untuk dilakukakan. Jadi, pada masa depan ia tak kesulitan lagi untuk hal
ini.
“Sekali ini, bertanyalah tentang hidup”
Tidaklah
salah kalau orang-orang sangat mendambakan ketenangan dalam hidup mereka.
Ketenangan adalah sebuah kelezatan, dan setiap kelezatan adalah kemewahan.
Sementara itu, kegelisahan telah lama masuk daftar hitam kumpulan hal-hal yang
mesti dihindari mati-matian. Bolehlah dikatakan bagai madu dan racun,
ketenangan adalah madu dan kegelisahan adalah racun pahit yang dihindari
manusia.
Sembarut
kata-kata di atas, bisa jadi benar. Jika sesuatu bisa jadi benar, maka ia bisa
juga salah. Tergantung dari perspektif mana kita melihat.
IRONI NEGERI
Perihal merokok atau tidak, bagi banyak orang adalah hak pribadi yang mutlak. Jika aku merokok, maka engkau tak dapat menyuruhku berhenti karena rokok itu dibeli sepenuhnya dengan uangku. Dihadapkan pada argumen seperti itu, orang-orang akan terbungkam, walaupun ada banyak argumen lain untuk menggugat, tapi yang ini sangat mendasar.
“ROK MINI”
Bukannya bermaksud genit-genitan dengan membahas-bahas rok mini disini, tapi memang itulah salah satu masalah yang sekarang ini sedang lebay-lebaynya.
Gubernur Jakarta menghimbau agar wanita tak menggunakan rok mini, khususnya di atas angkot. Menurut sang gubernur, wanita dan rok mininya dapat mengundang kejahatan. Tak ada yang salah dengan logika sang Gubernur bahwa wanita yang memakai rok mini dapat memancing khayalan nakal orang-orang, di antara para pengkhayal itu, bukan tak mungkin ada lelaki nekat kurang iman yang cukup bernyali mewujudkan khayalannya.
Label:
catatan-catatan kecil
“Uang dan Pengabdian”
Adalah hak seorang Bripu Norman untuk terus jadi polisi atau
tidak. Jika pada akhirnya sang Briptu memutuskan untuk tidak jadi polisi lagi,
maka siapapun tak akan bisa mencegahnya, bahkan seorang Kapolri sekalipun.
Berkas-berkas pengunduran diri yang ia ajukan akan berjalan sendirinya menuruti
alur sistem, hingga –cepat atau lambat- keluarlah keputusan yang memang ia
inginkan bahwa pengunduran dirinya diterima dan ia tak punya kewajiban apa-apa
lagi dalam dinas kepolsian.
Label:
catatan-catatan kecil
“SUDUT PANDANG”
Diceritakan dalam novel Andrea Hirata bahwa Naomi adalah penjual kue Hok Lo Pan yang amat lezat. Beginilah gambaran Andrea tentang lezatnya kue bikinan Naomi itu; bisa bikin lupa mertua! Maka tidaklah mengherankan jikalau kue itu menjadi amat legendaris di kampung Andrea, sampai-sampai untuk menikmati kelezatannya harus rela antri di depan gerobak Naomi dan orang miskinpun mau memaksa diri untuk menabung dulu agar bisa beli itu kue.
Jikalau orang-orang menunjukkan kegilaan yang seperti itu terhadap kue bikian Naomi, bagaimanakah dengan Naomi sendiri?
Jikalau orang-orang menunjukkan kegilaan yang seperti itu terhadap kue bikian Naomi, bagaimanakah dengan Naomi sendiri?
Label:
catatan-catatan kecil
“Pintar dan Bermoral”
Menjadi pintar itu sangat penting, karena di dalam rumah kehidupan tak terdapat sedikitpun ruang peran untuk kebodohan . Jikalau tetap memaksa diri menjadi orang bodoh, maka konsekwensi yang harus ditanggung adalah, anda akan terusir dari rumah kehidupan, hidup menggelandang tak tentu arah, ada tapi tiada.
Akan tetapi lebih penting lagi menjadi orang pintar yang bermoral. Ketika kepintaran dipandu dengan moralitas –akhlakul karimah- maka, ibarat matahari yang menerangi. Ketika kepada Rasul ditanyakan tentang manusia terbaik, maka beliau menjawab bahwa ia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maka orang-orang yang memberikan manfaat bagi orang lain adalah orang-orang pintar dalam bidangnya sekaligus mereka yang bermoral baik. Orang-orang ini mendapat tempat terhormat dalam rumah kehidupan.
Bagaimana kalau pintar tapi tak bermoral?
Label:
catatan-catatan kecil
Langganan:
Postingan (Atom)
